How To

Setting kombinasi Password di SAP

Posted on

Untuk alasan system security, biasanya seorang system admininstrator harus “memaksa” user untuk membuat password yang cukup secure. Semisal minimum password adalah 8 karakter, dengan gabungan angka dan huruf serta tidak boleh memasukan kata kata tertentu seperti kata “password”, “userid”, “nama kantor” dan lain sebagainya. Untuk melakukan setting itu, bisa dilakukan dengan setting beberapa parameter berikut :

1.  login/min_password_lng  : menentukan jumlah minimal karakter password

2.  login/min_password_digits : menetukan jumlah minimal karakter angka dalam password

3. login/min_password_letters : menetukan jumlah minimal karakter huruf dalam password

4. login/min_password_specials : menetukan jumlah minimal karakter special dalam password

5. Menambahkan restricted keyword ke dalam table USR40

selain yang kita bisa customisasi, by default SAP sudah mempunyai standard keamanan password sebagai berikut : (1) Password harus berbeda dari lima password terakhir (2) minimum adalah tiga karakter (3) tidak boleh dimulai dengan “?”, “!”, dan spasi (4) tidak boleh dimulai dengan kata “pass” (5) tidak boleh dimulai dengan tiga karakter yang sama – ie : 111xyz, aaa987 etc

Semoga bermanfaat,

– Radityo Yudhiarto –

Advertisements

Unlock SAP User dari Database (Oracle)

Posted on Updated on

Kadang kala kita sebagai seorang admin harus melakukan trial saat lupa password. biasanya terjadi di system atau client yang lamaa sekali kita tidak akses. Biasa nya trial ini terbatas bisa 3 atau 5 atau 7 dst tergantung kebijakan company kemudian user akan di lock untuk alasan keamanan. Lha untuk memperpanjang “nafas” mengingat-ingat password ini, setelah user ter lock, kita bisa lakukan cara unlock dari database level (oracle). Berikut step stepnya :

1. Login ke server sebagai ora<sid>

2.  jika unix langsung saja ketik sqlplus /nolog  – jika windows open command prompt kemudian ketik sqlplus nolog 

3. ketik connect /as sysdba

4. ketik command berikut

UPDATE SAP<SID>.USR02 SET UFLAG = 0 WHERE MANDT = ‘<client number>’ AND BNAME = ‘<user ID>’

untuk informasi, UFLAG adalah status user

0 Not Locked – 32 Locked Globally By Administrator – 64 Locked Locally By Administrator – 128 Locked Due To Incorrect Logons

 

Semoga bermanfaat,

– Radityo Yudhiarto –

Konsep Database – RDBMS di SAP

Posted on Updated on

Mungkin rekan-rekan semua sudah tau jika salah satu komponen wajib di SAP adalah database (alias basis data) 🙂

Secara umum database ini merupakan tempat menyimpan semua data yang digunakan dan diakses oleh system SAP. Data yang disimpan tidak hanya data data transaksi, tetepi juga data system seperti program dan konfigurasi paramenter system. Lha untuk “mewadahi” database functionality, maka dalam susunan “tier” SAP (silakan dibaca posting terdahulu) ada blok database instance (atau populer juga disebut database server dalam kondisi database dan applikasi sap berada dalam mesin yang berbeda)

Salah satu keunggulan SAP adalah mereka cukup terbuka dengan berbagai macam platform database. Beberapa tipe database kelas dunia sudah kompatible dengan SAP seperti Oracle, MS SQL, IBM DB2, MAX DB dll. Tentu saja masing masing platform database memiliki kelebihan, kekurangan dan “harga” yang berbeda beda 🙂

Database Server yang digunakan oleh Sistem SAP merupakan Relational Database Management System (RDBMS). Kita dapat menerjemahkan RDBMS sebagai server yang mengatur hubungan antara data satu dengan yang lain dalam satu database system. Secara umum RDBMS dapat melakukan beberapa fungsi sebagai berikut :

  • Me-manage data dalam ukuran yang cukup besar untuk dapat diakses oleh banyak user sekaligus dalam waktu yang bersamaan
  • Me-maintain hubungan antar data dan table
  • Menjamin ketersediaan fungsi fungsi keamanan data berdasarkan konsep autorisasi (user dan object)
  • Mampu melakukan recovery data ke kondisi normal saat terjadi inconsistecy data 
  • Mampu melakukan pemrosesan banyak data dalam kecepatan tinggi

Dalam implementasinya di environment SAP, hanya administrator database boleh melakukan akses langsung ke database. Semua aktivitas data processing di SAP yang dilakukan oleh user akan dikendalikan sepenuhnya oleh workprocess di SAP (salah satu kernel aplikasi SAP) dimana untuk koneksi dari SAP application server ke SAP database server akan memanfaatkan functionality dari database client.

Semoga membantu,

–  Radityo Yudhiarto –

Mengenal ASAP Metodhology

Posted on Updated on

Just for sharing, biasanya dalam project project SAP, implementor akan menggunakan project metodhology yang berbasis pada ASAP Roadmap Metodhology.  Mengutip dari help.sap.com, saya coba tuliskan kembali dalam blog ini apa sih yang dimaksud ASAP Roadmap metodhology

The implementation of your SAP System covers the following phases:

Project Preparation

In this phase you plan your project and lay the foundations for successful implementation. It is at this stage that you make the strategic decisions crucial to your project. Activities in this phase will consist of Define your project goals and objectives, Clarify the scope of your implementation, Define your project schedule, budget plan, and implementation sequence, Establish the project organization and relevant committees and assign resources

Business Blueprint

In this phase you create a blueprint using the Question & Answer database (Q&Adb), which documents your enterprise’s requirements and establishes how your business processes and organizational structure are to be represented in the SAP System. You also refine the original project goals and objectives and revise the overall project schedule in this phase. In this phase, you configure the requirements contained in the Business Blueprint.

Realization

Baseline configuration (major scope) is followed by final configuration (remaining scope), which can consist of up to four cycles. Other key focal areas of this phase are conducting integration tests and drawing up end user documentation.

Final Preparation

In this phase you complete your preparations, including testing, end user training, system management, and cutover activities. You also need to resolve all open issues in this phase.

Go Live & Support

At this stage you need to ensure that all the prerequisites for your system to go live have been fulfilled. In this phase you move from a pre-production environment to the live system. The most important elements include setting up production support, monitoring system transactions, and optimizing overall system performance.

 Cukup jelas kan ya penjelasannya, silakan jika ada comment 🙂

– Radityo Yudhiarto – 

SAP Data Archiving System = Mengarsipkan Data SAP

Posted on

Kali ini coba share tentang SAP Archiving ya, mumpung keinget 🙂

Ketika SAP sudah mulai aktif, maka hal yang otomatis bertambah adalah data, baik master data maupun data transaksi. Klo master data berhubungan data data yang merupakan variable tetap, maka data transaksi merepresentasikan semua hal yang dimiliki, dikelola dan dimanfaatkan oleh satu company, so kebayangkan klo ada supermarket yang menjual berbagai macam barang harus mencatat mulai datangnya barang, disimpan dimana, dimasukkan toko kapan, dibeli dengan harga berapa, uang yang bergerak berapa, tenaga kerja digaji berapa dll (hehehe bayangin aja dah pusing).

Untuk itu management data menjadi sangat penting, mana data yang masih dipakai untuk day to day reporting misal, mana data yang masih diperlukan untuk kepentingan audit, dan data mana yang benar benar sudah tidak diperlukan. Setelah verifikasi data, maka step berikutnya adalah didefinisikan cara me-reduce database size strategi data mana yang bisa dibuang dan data mana yang harus dijadikan arsip alias di  archive, pertanyaan berikut pasti, apa sih archive? Archiving SAP secara bebas bisa didefinisikan sebagai memindahkan data dari database system ke server file system ataupun ke external storage (gak papa ya rada teknis nih bahasanya). Jadi secara fisik data hilang dari database, tetapi secara fungsi, data masih dapat di retrieve kapanpun dibutuhkan. Alasanya biasanya adalah kebutuhan system audit 🙂

Berikut flow dari aktivitas SAP Archiving. Transaction Code tidak banyak kok cuma SARA untuk manage archiving process dan SARI untuk data archive explorer plus AOBJ untuk create archiving object dan DB15 untuk kalkulasi database space yang bisa di reduce


Semoga membantu, klo ada yang pengin tau lebih detail, please comment ya

– Radityo Yudhiarto –

Tips n Trick SAP Client Copy after install

Posted on

Dalam sebuah installasi SAP, by default kita akan mendapatkan beberapa client standar 000 (biasa disebut master client), 001 (application master client) dan 066 (earlywatch) client. Walaupun telah disediakan client default tersebut, tetapi SAP sangat tidak menyarankan untuk menggunakan client client tersebut sebagai client untuk day to day operation. Dalam tulisan ini kami akan mencoba untuk berbagi beberapa tips n tricks seputaran copy client :

1. Login pake user selain sap* ke client 000
2. parameter login/no_automatic_user_sapstar harus = 0, klo masih 1, tolong di rubah melalui transaksi RZ10 kemudian jangan lupa restart setelah change parameter. ini mandatory yak, cz jika nilainya masih 1, kita tidak akan dapat mengakses client yang akan kita buat nanti karena SAP tidak akan men-generate user SAP* di database.
3. buat logical system name via transaksi BD54, gunanya adalah untuk seting comunnication link menuju client yang akan kita buat
4. klo semuanya sudah ready, kita bisa create clientnya dengan menggunakan transaksi SCC4. jangan lupa dilengkapi aja data data sesuai dengan tipe client yang akan kita buat.
5. setelah client ter-create kita bisa login ke client yang bersangkutan dengan menggunakan user sap*/passwd : pass. Tentu saja client yang disini bener bener kosongan, blum ada data dan konfigurasi apapun. Makadari itu diperlukan process copy client dari template yang sudah diberikan yaitu client 000 atau 001
6. Kemudian masuk ke transaksi SCCL, untuk melakukan local client copy. Pada profile masukan sap_all, source client=000, source client user master boleh 000/001 –> execute
7. Kita bisa melakukan monitoring process menggunakan transaksi SCC3

Setelah process finish, kita bisa melakukan process developing seperti maintain customizing ataupun create n change program, di client yang baru ini. sedikit catatan buat yang menginstall sekaligus java add in nya, kita harus melakukan beberapa perubahan melalui configtool untuk pointing client dari old ke new, dan konfigurasi di UME java agar bisa pointing ke user master record client yang baru.

Semoga bisa membantu 🙂

– Radityo Yudhiarto –

 

Syntax dasar ABAP

Posted on Updated on

Gak kerasa sudah 15 postingan tapi belum pernah bicara tentang ABAP yak. Buat yang pengin tau konsep dan syntax-syntax dasar ABAP programming, silakan di donlot n dibuka saja file pdf tentang abap programming disini tadi kebetulan dapet dari amaderforum.com 🙂

karena banyak fokus di basis jadi ABAP gak terlalu dalem nih, tapi sumonggo klo ada pertanyaan, akan kami jawab sepengetahuan kami 😀