Month: April 2011

Konsep Database – RDBMS di SAP

Posted on Updated on

Mungkin rekan-rekan semua sudah tau jika salah satu komponen wajib di SAP adalah database (alias basis¬†data) ūüôā

Secara umum database ini merupakan tempat menyimpan semua data yang digunakan dan diakses oleh system SAP. Data yang disimpan tidak hanya data data transaksi, tetepi juga data system seperti program dan konfigurasi paramenter system. Lha untuk “mewadahi” database functionality, maka dalam susunan “tier” SAP (silakan dibaca posting terdahulu) ada blok database instance (atau populer juga disebut database server dalam kondisi database dan applikasi sap berada dalam mesin yang berbeda)

Salah satu keunggulan SAP adalah mereka cukup terbuka dengan berbagai macam platform database. Beberapa tipe database kelas dunia sudah kompatible dengan SAP seperti Oracle, MS SQL, IBM DB2, MAX DB dll. Tentu saja masing masing platform database memiliki kelebihan, kekurangan dan “harga” yang berbeda beda ūüôā

Database Server yang digunakan oleh Sistem SAP merupakan Relational Database Management System (RDBMS). Kita dapat menerjemahkan RDBMS sebagai server yang mengatur hubungan antara data satu dengan yang lain dalam satu database system. Secara umum RDBMS dapat melakukan beberapa fungsi sebagai berikut :

  • Me-manage data dalam ukuran¬†yang cukup besar untuk dapat diakses¬†oleh¬†banyak user sekaligus dalam waktu yang bersamaan
  • Me-maintain hubungan antar data dan table
  • Menjamin ketersediaan fungsi fungsi¬†keamanan data berdasarkan konsep autorisasi (user dan object)
  • Mampu melakukan recovery data ke kondisi normal saat terjadi¬†inconsistecy data¬†
  • Mampu melakukan pemrosesan¬†banyak data dalam kecepatan tinggi

Dalam implementasinya di environment SAP, hanya administrator database boleh melakukan akses langsung ke database. Semua aktivitas data processing di SAP yang dilakukan oleh user akan dikendalikan sepenuhnya oleh workprocess di SAP (salah satu kernel aplikasi SAP) dimana untuk koneksi dari SAP application server ke SAP database server akan memanfaatkan functionality dari database client.

Semoga membantu,

–¬† Radityo Yudhiarto –

Mengenal ASAP Metodhology

Posted on Updated on

Just for sharing, biasanya dalam project project SAP, implementor akan menggunakan project metodhology yang berbasis pada ASAP Roadmap Metodhology.  Mengutip dari help.sap.com, saya coba tuliskan kembali dalam blog ini apa sih yang dimaksud ASAP Roadmap metodhology

The implementation of your SAP System covers the following phases:

Project Preparation

In this phase you plan your project and lay the foundations for successful implementation. It is at this stage that you make the strategic decisions crucial to your project. Activities in this phase will consist of Define your project goals and objectives, Clarify the scope of your implementation, Define your project schedule, budget plan, and implementation sequence, Establish the project organization and relevant committees and assign resources

Business Blueprint

In this phase you create a blueprint using the Question & Answer database (Q&Adb), which documents your enterprise’s requirements and establishes how your business processes and organizational structure are to be represented in the SAP System. You also refine the original project goals and objectives and revise the overall project schedule in this phase. In this phase, you configure the requirements contained in the Business Blueprint.

Realization

Baseline configuration (major scope) is followed by final configuration (remaining scope), which can consist of up to four cycles. Other key focal areas of this phase are conducting integration tests and drawing up end user documentation.

Final Preparation

In this phase you complete your preparations, including testing, end user training, system management, and cutover activities. You also need to resolve all open issues in this phase.

Go Live & Support

At this stage you need to ensure that all the prerequisites for your system to go live have been fulfilled. In this phase you move from a pre-production environment to the live system. The most important elements include setting up production support, monitoring system transactions, and optimizing overall system performance.

¬†Cukup jelas kan ya penjelasannya, silakan jika ada comment¬†ūüôā

– Radityo Yudhiarto –¬†

Document untuk SAP Goods Movements

Posted on Updated on

Masih terusan posting¬†sebelumnya ūüôā

When you enter a goods movement, you can work with or without a reference document. You can enter a goods receipt, for example, with reference to a production order or to a purchase order. However, you can also enter all  the necessary data manually. Documents that are created for posting goods movements and are the basis for the quantity and value update also serve as verification for the movement. The bookkeeping principle no posting without document is valid here.

Material document

The material document serves as verification for the goods movement and as a source of information for all subsequent applications. The material document consists of a header and at least one item. The header contains general data about the movement type, such as the date and delivery note number. The items describe the individual movements.A material document is identified by the document number and the material document year.

Accounting document

If the movement is relevant for Financial Accounting (in other words, if the movement leads to an update of the G/L accounts) the system creates an accounting document parallel to the material document.

In some cases — for example, for two material document items with different plants that belong to different company codes — the system creates several accounting documents for one material document. The G/L accounts affected by a goods movement are updated by automatic account determination.An accounting document is identified by the company code, the document number, and the fiscal year

Semoga membantu,

– Radityo Yudhiarto –¬†

Definisi SAP Goods Movement

Posted on

Co Pas dari MM training module, refresh dulu dari teknikal¬†ūüôā

Goods movements include both external¬Ēand internal movements. In general, a transaction that causes a stock change is marked as a goods movement. You can distinguish between goods receipts, goods issues, stock transfers, and transfer postings.

 A goods receipt (GR) is a goods movement in which the receipt of goods from both an external vendor and from production is posted. A goods receipt leads to an increase of warehouse stock.

A goods issue (GI) is a goods movement in which a material withdrawal, goods issue, material consumption, or goods shipment is posted to a customer. A goods issue leads to a decrease of warehouse stock.

A stock transfer is removal of materials from a particular storage location and placement into another storage location. Stock transfers can take place both within the same plant and between two plants.

A transfer posting is a superordinate term for stock transfers and changes the stock identification or qualification of a material, regardless of whether the posting is linked to a physical movement or not. Examples of a transfer posting include the release of the stock for quality inspection, the transfer posting from material to material, or the transfer of consignment material.

Semoga bermanfaat,

– Radityo Yudhiarto –

SAP Data Archiving System = Mengarsipkan Data SAP

Posted on

Kali ini coba share tentang SAP Archiving ya, mumpung keinget ūüôā

Ketika SAP sudah mulai aktif, maka hal yang otomatis bertambah adalah data, baik master data maupun data transaksi. Klo master data berhubungan data data yang merupakan variable tetap, maka data transaksi merepresentasikan semua hal yang dimiliki, dikelola dan dimanfaatkan oleh satu company, so kebayangkan klo ada supermarket yang menjual berbagai macam barang harus mencatat mulai datangnya barang, disimpan dimana, dimasukkan toko kapan, dibeli dengan harga berapa, uang yang bergerak berapa, tenaga kerja digaji berapa dll (hehehe bayangin aja dah pusing).

Untuk itu management data menjadi sangat penting, mana data yang masih dipakai untuk day to day reporting misal, mana data yang masih diperlukan untuk kepentingan audit, dan data mana yang benar benar sudah tidak diperlukan. Setelah verifikasi data, maka step berikutnya adalah didefinisikan cara me-reduce database size strategi data mana yang bisa dibuang dan data mana yang harus dijadikan arsip alias di ¬†archive, pertanyaan berikut pasti, apa sih archive? Archiving SAP secara bebas bisa didefinisikan sebagai memindahkan data dari database system ke server file system ataupun ke external storage (gak papa ya rada teknis nih bahasanya). Jadi secara fisik data hilang dari database, tetapi secara fungsi, data masih dapat di retrieve kapanpun dibutuhkan. Alasanya biasanya adalah kebutuhan system audit ūüôā

Berikut flow dari aktivitas SAP Archiving. Transaction Code tidak banyak kok cuma SARA untuk manage archiving process dan SARI untuk data archive explorer plus AOBJ untuk create archiving object dan DB15 untuk kalkulasi database space yang bisa di reduce


Semoga membantu, klo ada yang pengin tau lebih detail, please comment ya

– Radityo Yudhiarto –